Jumat, 11 Maret 2016

ADZAN

Bismillahirrahmanirrahim..
Kami akan menjawab dari pertanyaan dari seorang pembaca, ditulis dalam secarik kertas, semoga tulisan ini dapat menuntaskan jawaban dari pertanyaan anda..




السلام عليكم و رحمة الله وبركاته
الحمد لله رب العلمين و الصلاة والسلام على اشرف الأنبيآء والمرسلين سيدنا ومولنا محمد وعلى اله واصحبه اجمعين اما بعد.


1.        Dari mana sumber lafadh adzan ?
2.        Siapa nama sahabat nabi yang menambah lafadh adzan yang berbunyi “ASSHALATU KHAIRUN MINANNAUM ”

Sebelumnya kami akan menjelaskan apa itu adzan ? adzan ialah pemberitahuan akan masuknya waktu shalat dengan lafadh-lafadh tertentu. Dengan adzan maka tercapailah seruan untuk berjamaah dan mengumandangkan syi’ar islam. Berkata Qurthubi dan lain-lain : “Walau kalimat-kalimatnya tidak banyak, tapi adzan mengandung soal-soal aqidah, karena ia dimulai dengan takbir dan menyebutkan tentang wujud Allah dan kesempurnaannya.
Untuk pertanyaan pertama,
Adzan mulai disyari’atkan pada tahun pertama dari hijrah beliau. Sebab-sebab disyaria’atkannya ialah seperti dinyatakan oleh terjemahan hadist berikut ini :
Dari nafi’ bahwa ibnu umar mengatakan sebagai berikut :
“Dulu kaum muslimin berkumpul dan mengira-ngirakan waktu shalat dan tak ada orang  yang menyerukannya. Maka pada suatu hari mereka bicarakanlah hal itu. Di antaranya ada yang mengatakan : ‘Pergunakan lonceng seperti lonceng orang-orang nasrani’ !
Ada pula yang menganjurkan: ‘Lebih baik tanduk seperti serunya orang Yahudi’ ! Maka berkatalah Umar : ‘Kenapa tidak disuruh saja seseorang buat menyerukan shalat’ ?
Maka bersabdalah Rasulullah saw.: ‘Hai Bilal, bangkitlah’ ! Lalu diserukannya adzan,” (H.R.Ahmad dan Bukhari)

Dari Abdullah bin Zaid bin Abi Rabbih, berkata :
“Tatkala Rasulullah saw. Menyuruh menyediakan lonceng buat dipukul guna menghimpun orang-orang untuk shalat, << dalam suatu riwayat : sedang sebenarnya ia tidak suka karena sama dengan orang-orang Nasrani >> tiba-tiba waktu saya tidur, saya dikelilingi oleh seorang laki-laki yang membawa sebuah lonceng ditangannya.
 Maka kataku kepadanya: ‘Hai hamba Allah ! Apakah anda bersedia menjual lonceng itu’ ? Ujarnya: ‘Apa gunanya buat anda’ ?
‘Buat memanggil orang untuk shalat’, ujarku.
‘Maukah Anda saya tunjukkan yang lebih baik dari itu’ ?
‘Baikklah’, ujarku pula.
Maka katanya: Ucapkanlah sebagai berikut:
            Allahu Akbar, Allahu Akbar (2x)
Asyhadu alla ilaha illallah (2x)
Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah (2x)
Hayya ‘alash-shalah ! (2x)
Hayya ‘alal-falah ! (2x)
Allahu Akbar, Allahu Akbar
Laa ilaha illalah
Kemudian ia mundur sedikit lalu berkata: ‘Jika shalat hendak didirikan bacalah sebagai berikut:
Allahu Akbar, Allahu Akbar
Asyhadu alla ilaha illallah
Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah
Hayya ‘alash-shalah !
Hayya ‘alal-falah !
Qad qamati’shsalah (2x)
Allahu Akbar, Allahu Akbar
Laa ilaha illalah
Dan tatkala hari telah pagi, saya pun datang mendapatkan Rasulullah saw. Lalu menceritakan apa yang saya alami. Maka ujarnya: ‘Insya Allah, sesungguhnya itu adalah mimpi yang benar. Berdirilah dengan Bilal dan ajarkanlah kepadanya apa yang kau dengar itu supaya diserukannya, karena suaranya lebih baik dan lebih lantang daripada suaramu.
Maka saya pun berdiri bersama Bilal dan saya ajarkanlah kepadanya bacaan-bacaan itu sementara ia adzan!”
Selanjutnya katanya: “Suara itu kedengaran oleh umar yang sedang berada di rumahnya, ia pun keluarlah dengan kainnya yang terjela dibelakang seraya katanya: ‘Demi Tuhan yang telah mengutus Anda dengan kebenaran, saya juga bermimpi sebgaimana apa yang anda impikan’!”
Maka Nabi saw. Pun bersabdalah: “Maka bagi Allah segala puji.”
(H.R. Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah, Ibnu khuzaimah serta Turmudzi yang mengatakan: “hadits ini hasan lagi shahih.”)

Untuk pertanyaan kedua,
Yang dimaksud dari pertanyaan kedua yaitu TATSWIB,
Disyari’atkan bagi muadzdzin tatswib yakni mengucapkan waktu adzan Subuh: setelah “Haiya ‘alal-falah” “Ash Shalatu khairum minan naum”.
Dari Abu Mahdzurah, berkata:
“Ya Rasulullah! Ajarkanlah kepadak tata cara adzan. “Maka diajarkanlah oleh Rasulullah, dan pesannya. “Jika shalat Subuh, hendaklah ucapkan:
            “Ash Shalatu khairum minan naum. (2x)
            Allahu Akbar, Allahu Akbar.
            La ilah illallah. (H.R Ahmad dan Abu Daud)

Selain dari shalat Subuh  tidak disyari’atkan.

Dari kedua hadist diatas kita dapat mengambil kesimpulan bahwa lafadh adzan bersumber dari Allah, yang disampaikan kepada Rasullah dan mengajarkannya kepada Ummatnya. Dan lafadh  Ash Shalatu khairum minan naum bukan berasal dari sahabat, akan tetapi itu adalah ajaran Rasulullah.

Semoga kita selalu mempercayai bahwa Allah adalah Maha Segalanya atas segala sesuatu.

.. والله اعلم بالصواب ..