Bismillahirrahmanirrahim..
Kami
akan menjawab dari pertanyaan dari seorang pembaca, ditulis dalam secarik kertas, semoga tulisan ini dapat menuntaskan jawaban dari pertanyaan anda..
السلام
عليكم و رحمة الله وبركاته
الحمد لله رب العلمين و الصلاة والسلام على اشرف الأنبيآء والمرسلين سيدنا
ومولنا محمد وعلى اله واصحبه اجمعين اما بعد.
1.
Dari mana sumber lafadh adzan ?
2.
Siapa nama sahabat nabi yang menambah lafadh adzan
yang berbunyi “ASSHALATU KHAIRUN MINANNAUM ”
Sebelumnya kami akan menjelaskan apa itu adzan ? adzan
ialah pemberitahuan akan masuknya waktu shalat dengan lafadh-lafadh
tertentu. Dengan adzan maka tercapailah seruan untuk berjamaah dan mengumandangkan
syi’ar islam. Berkata Qurthubi dan lain-lain : “Walau kalimat-kalimatnya tidak
banyak, tapi adzan mengandung soal-soal aqidah, karena ia dimulai dengan takbir
dan menyebutkan tentang wujud Allah dan kesempurnaannya.
Untuk
pertanyaan pertama,
Adzan
mulai disyari’atkan pada tahun pertama dari hijrah beliau. Sebab-sebab
disyaria’atkannya ialah seperti dinyatakan oleh terjemahan hadist berikut ini :
Dari
nafi’ bahwa ibnu umar mengatakan sebagai berikut :
“Dulu
kaum muslimin berkumpul dan mengira-ngirakan waktu shalat dan tak ada
orang yang menyerukannya. Maka pada
suatu hari mereka bicarakanlah hal itu. Di antaranya ada yang mengatakan :
‘Pergunakan lonceng seperti lonceng orang-orang nasrani’ !
Ada
pula yang menganjurkan: ‘Lebih baik tanduk seperti serunya orang Yahudi’ ! Maka
berkatalah Umar : ‘Kenapa tidak disuruh saja seseorang buat menyerukan shalat’
?
Maka
bersabdalah Rasulullah saw.: ‘Hai Bilal, bangkitlah’ ! Lalu diserukannya
adzan,” (H.R.Ahmad dan Bukhari)
Dari Abdullah bin Zaid bin Abi Rabbih, berkata :
“Tatkala
Rasulullah saw. Menyuruh menyediakan lonceng buat dipukul guna menghimpun
orang-orang untuk shalat, << dalam suatu riwayat : sedang sebenarnya ia
tidak suka karena sama dengan orang-orang Nasrani >> tiba-tiba waktu saya
tidur, saya dikelilingi oleh seorang laki-laki yang membawa sebuah lonceng
ditangannya.
Maka kataku kepadanya: ‘Hai hamba Allah
! Apakah anda bersedia menjual lonceng itu’ ? Ujarnya: ‘Apa gunanya buat anda’
?
‘Buat
memanggil orang untuk shalat’, ujarku.
‘Maukah
Anda saya tunjukkan yang lebih baik dari itu’ ?
‘Baikklah’,
ujarku pula.
Maka
katanya: Ucapkanlah sebagai berikut:
Allahu Akbar, Allahu Akbar (2x)
Asyhadu alla ilaha illallah (2x)
Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah (2x)
Hayya ‘alash-shalah ! (2x)
Hayya ‘alal-falah ! (2x)
Allahu Akbar, Allahu Akbar
Laa ilaha illalah
Kemudian
ia mundur sedikit lalu berkata: ‘Jika shalat hendak didirikan bacalah sebagai
berikut:
Allahu Akbar, Allahu Akbar
Asyhadu alla ilaha illallah
Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah
Hayya ‘alash-shalah !
Hayya ‘alal-falah !
Qad qamati’shsalah (2x)
Allahu Akbar, Allahu Akbar
Laa ilaha illalah
Dan
tatkala hari telah pagi, saya pun datang mendapatkan Rasulullah saw. Lalu
menceritakan apa yang saya alami. Maka ujarnya: ‘Insya Allah, sesungguhnya itu
adalah mimpi yang benar. Berdirilah dengan Bilal dan ajarkanlah kepadanya apa
yang kau dengar itu supaya diserukannya, karena suaranya lebih baik dan lebih
lantang daripada suaramu.
Maka
saya pun berdiri bersama Bilal dan saya ajarkanlah kepadanya bacaan-bacaan itu
sementara ia adzan!”
Selanjutnya
katanya: “Suara itu kedengaran oleh umar yang sedang berada di rumahnya, ia pun
keluarlah dengan kainnya yang terjela dibelakang seraya katanya: ‘Demi Tuhan
yang telah mengutus Anda dengan kebenaran, saya juga bermimpi sebgaimana apa
yang anda impikan’!”
Maka Nabi saw. Pun bersabdalah: “Maka bagi Allah
segala puji.”
(H.R. Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah, Ibnu khuzaimah
serta Turmudzi yang mengatakan: “hadits ini hasan lagi shahih.”)
Untuk pertanyaan kedua,
Yang
dimaksud dari pertanyaan kedua yaitu TATSWIB,
Disyari’atkan
bagi muadzdzin tatswib yakni mengucapkan waktu adzan Subuh: setelah “Haiya
‘alal-falah” “Ash Shalatu khairum minan naum”.
Dari
Abu Mahdzurah, berkata:
“Ya
Rasulullah! Ajarkanlah kepadak tata cara adzan. “Maka diajarkanlah oleh
Rasulullah, dan pesannya. “Jika shalat Subuh, hendaklah ucapkan:
“Ash Shalatu khairum minan naum.
(2x)
Allahu
Akbar, Allahu Akbar.
La
ilah illallah. (H.R
Ahmad dan Abu Daud)
Selain dari shalat Subuh tidak disyari’atkan.
Dari kedua hadist diatas kita dapat mengambil
kesimpulan bahwa lafadh adzan bersumber dari Allah, yang disampaikan kepada
Rasullah dan mengajarkannya kepada Ummatnya. Dan lafadh Ash Shalatu khairum minan naum bukan
berasal dari sahabat, akan tetapi itu adalah ajaran Rasulullah.
Semoga kita selalu mempercayai bahwa Allah adalah Maha
Segalanya atas segala sesuatu.
.. والله
اعلم بالصواب ..



Mmmm

